PuisiJalaluddin Rumi Tentang Puasa. 18.23 No comments. Puasa Membakar Hijab. Rasa manis yang tersembunyi. Ditemukan di dalam perut yang kosong ini! Ketika perut kecapi telah terisi, ia tidak dapat berdendang, Baik dengan nada rendah ataupun tinggi. Jika otak dan perutmu terbakar karena puasa, Cintaadalah hakekat agama yang mempersatukan seluruh umat manusia di dalam cahaya Keilahian. Berikut Intisari 50 Puisi Rumi Tentang Cinta, Keilahian, dan Kehidupan yang dirangkum Tribun Medan dari 1. Aku bukanlah orang Nasrani, Aku bukanlah orang Yahudi, Aku bukanlah orang Majusi, dan Aku bukanlah orang Islam. PuisiRumi Tentang Puasa. 13 February 2022 Tulisan Bermakna 1. Sehingga kita dapat bertemu pada "suatu ruang murni" tanpa dibatasi berbagai prasangka atau pikiran yang gelisah. Dalam kitab yang satu dia menjadikan asketisme dan puasa sebagai sumber penyesalan dan syarat keselamatan. Kata Mutiara Jalaludin Rumi Tentang Istri Durhaka Puisi. KumpulanPuisi-Puisi / Sajak-Sajak Terbaik Jalaluddin Rumi Assalamualaikum sahabat pecinta Syaikh Jalaluddin Rumi yang mungkin sedang kangen untuk membaca Karya-Karya Besar beliau, berikut ini Puisi.ID postingkan 100 puisi-puisi terbaik Syaikh Jalaluddin Rumi. Selamat membaca : Hanya Budak-Nya PuisiMaulana Jalaluddin Rumi tentang iedul fitri, tentang puasa dan kembali kepada Tuhan.Saksikan pula :Insipirasi kehidupan Rumi : Berbicaratentang amalan di bulan Muharram erat kaitannya dengan puasa Asyura yang tahun ini bertepatan dengan Senin, 8 Agustus 2022. Puasa Asyura jatuh pada 10 Muharram dalam kalender penanggalan Islam. Ada banyak momentum penting yang melatarbelakangi puasa Asyura diantaranya penciptaan Nabi Adam A.S di surga, diangkatnya Nabi Isa A.S ke Rumimengajak kita untuk melangkah lebih jauh, memaknai puasa secara transendental. Dengan menggunakan redaksi yang berbeda-beda, Rumi memandang puasa sebagai "jamuan rohani". Yaitu, asupan gizi yang sangat dibutuhkan jiwa manusia untuk menajamkan spiritualitasnya. Inilah puasa sebenarnya, bukan hanya sekedar tidak makan dan minum. Wahairamadhan. Mungkinku rekahkan wajahku disetiap waktu. Dan kubisikkan pada fajar. Hingga terbit matahari serupa wajahku. Yang setia melantunkan ayat-ayat harapan. "Berkatilah hamba ini dibulan mulia-Mu". Demikianlah enam koleksi puisi islami tentang puasa di bulan ramadhan atau puisi ramadhan, baca juga puisi-puisi isami tentang bulan Denganberpuasa, mata batin dan kepekaan manusia kiranya akan lebih terasah dan tajam sehingga hikmah-hikmah tentang hidup dan kehidupan dengan lebih mudah kita dapatkan. Selain Maulana Jalaluddin Rumi, penyair Syekh Hamzah Fansuri juga banyak menulis tentang anjuran untuk berpuasa dalam puisi-puisinya. Niatpuasa khamis niat puasa sunat isnin khamis aku islam simak ulasan tentang niat puasa wajib bulan ramadhan dan niat puasa sunnah yang . "whatever is prayed for at the time of breaking the fast is granted and never refused.". Niat puasa isnin dan khamis dalam rumi. Lafaz Niat Puasa Sunat Isnin Dan Khamis Sartnics from i0.wp.com PR7X. Sedentum datangnya, tenang dirasa Sepercik perginya, hilang bermasa Halakan tinggi, tiada terperi Puncaknya iman, tinggalkan diri Bukan nak membandingkan dua kata “puasa” dan “puisi” dalam tulisan ini. Apalagi nak menyamakannya, tentu tak kan sampai sebab beda makna dan tentu saja beda secara hakikat. Meskipun dua kata tersebut, hanya dibedakan pada dua bunyi huruf vokal “a” dan “i” saja. Tetapi agaknya, bila memandangkan pada sisi proses menjalaninya, bolehlah diuraikan kesamaan yang ada. Pada dasarnya, kedua kata ini menurut hemat saya, memiliki muara yang seharusnya sama. Menggenang ia di hamparan rasa. Rasa hening, senyap, takzim yang serba memuncak dan disitulah momen esetetiknya. Sejatinya, setiap momen estetik yang ditangkap, dijalani, diyakinkan dapat dijadikan sarana untuk menggapai pengalaman religius. Ada momen yang berbeda dari keseharian kita, pabila berpuasa dan juga berpuisi. Keduanya, puasa dan puisi hendaknya dijalankan dengan penuh penghayatan dan pengalaman. Sehingga menjadikan tiap laku dalam proses tersebut mendatangkan kebaharuan dan kesegaran jiwa. Puasa dijalani sebagai ibadah di bulan Ramadan, dengan segenap penghayatan diri dalam melakukannya, termasuk ibadah-ibadah yang turut serta di hari baik dan bulan baik tersebut. Dengannya maka mendatangkan pengalaman hidup yang serba optimis, nyaman dan damai. Puisi dihadirkan sang penyair juga demikian, penghayatan akan tiap-tiap momen kehidupan, dirasakan, disarikan, diekstrak menjadi bahasa-bahasa puitik untuk membangkitkan atau bahkan merefresh pengalaman-pengalaman hidup baik bagi diri penyair, pun bagi pembaca. Ketika sedang berpuasa, kita diwajibkan menahan diri. Menahan mulut untuk tidak mengumbar kata-kata yang tidak perfaedah, perbanyak zikir,doa dan tadarus, mempercakapkan hal-hal yang serba ranum dan indah dalam pencapaian hakiki. Menahan telinga dari mendengar kabar-kabar yang tidak baik, mendekatkan pendengaran pada gelombang suara yang memilik frekuensi serba keesaan. Menahan hidung dari membaui hal yang membangkitkan selera, mengakrabi keharuman akhirat ketimbang duniawi. Menahan lapar dan haus, agar sisi di dalam diri terbangun dengan segala kepekaan terhadap alam dan sekitarnya. Menahan hati dari serbuan godaan nafsu, memagarinya dengan segenap kerelaan dan keihklasan dalam menjalani ibadah yang kesemuanya mengarah vertikal. Disinilah puncaknya, kenikmatan yang maha nikmat. Proses kelahiran puisi, sejatinya juga demikian, menurut fikir hamba yang fakir ini. Semua bermula dari penahanan seluruh indra yang dimiliki terhadap selerak fenomena yang wajib untuk disingkap dan disimpan. Dalam proses penahan itulah kemudian, semuanya dikemas, diolah agar kemudian bait-bait yang lahir dari getaran di dalam, sehingga yang tampak tersusun kemudian tidak hanya keindahan bunyi belaka, tidak permainan kata semata, akan tetapi juga adalah sumber getaran itu sendiri. Di sini jualah kenikmatan yang sesungguhnya dapat dirasa dari kelahiran puisi. Bukan pada decak kagum, tepuk tangan, komentar pujian, bahkan cacian dan hinaan yang kesemua itu pun perlu proses penahanan diri menerimanya agar kejujuran dalam membahasakannya tidak tergadai. Agar puisi yang lahir tidak semata-mata hanya karena telah berhasil memilih kata-kata puitik belaka. Serupalah berpuasa, bila tidak mampu menahan diri, hanya akan mendapat sebatas haus dan lapar saja. Dengan demikian, dapat pula dikatakan berpuasa dan berpuisi adalah titik di mana pengalaman religius seseorang sedang ditempa. Menghidupkan fantasi tentang sesuatu yang jauh, yang kekal, yang serba maha. Semuanya menggenang dalam pengalaman batin seseorang yang sanggup menjalaninya. Kedua proses itu pun kemudian dijalani sekaligus mempertegas subjek yang tampil sebagai si penghayat kehidupan itu sendiri. Bukankah proses yang coba dipaparkan di atas, kiranya akan membawa seseorang pada transformasi batin dan penyempurnaan rohani. Hal ini, bila tak salah dikatakan sangatlah dekat dengan ajaran-ajaran tasawuf sufi, mengedepankan nilai-nilai kearifan dan kebaikan di dalam aspek kehidupan, baik yang bersifat ibadah maupun muamalah. Tak heran kemudian ada banyak penyair sufi besar dalam sejarah Islam memuat prihal puasa di dalam abit-bait puisinya. Sebut saja salah satunya, Maulana Jalaluddin Rumi. Mengutip penggal puisi dalam kitab “Matsnawi,” Rumi pernah menulis tentang esensi puasa. Ketika mulut ini tertutup, maka akan terbukalah mulut lainnya // Untuk bersiap menerima jamuan-jamuan rahasia Jilid III, bait 3747. Secara sederhana dapat dijelaskan dari bait di atas, bahwa tatkala kita berpuasa, menjadi kewajiban untuk menahan atau menutup mulut lahiriah kita, artinya tidak makan dan minum sampai batas waktu yang telah ditentukan. Terang di bait tersebut, Rumi menyatakan, tatkala mulut lahiriah kita tertutup, maka mulut batiniah kita akan terbuka. Tafsir sederhanya, terkait dengan jamuan-jamuan rahasia dalam puisi di atas adalah bisa saja jamuan yang bersifat rohani, yang jauh lebih nikmat dari sekadar hidangan juadah makanan dan minuman. Dengan demikian, esensi puasa bagi penyair adalah untuk mencapai tersingkapnya penghalang yang menutupi penglihatan batin manusia. Dengan berpuasa, mata batin dan kepekaan manusia kiranya akan lebih terasah dan tajam sehingga hikmah-hikmah tentang hidup dan kehidupan dengan lebih mudah kita dapatkan. Selain Maulana Jalaluddin Rumi, penyair Syekh Hamzah Fansuri juga banyak menulis tentang anjuran untuk berpuasa dalam puisi-puisinya. Mengutip penggal puisi dalam kitab “Asrar al-’Arifin”, Syekh Hamzah Fansuri menuliskan jangan bermaqam di ubun-ubun atau di pucuk hidung // atau di antara kening atau di dalam jantung // sekalian itu hijab kepada Dzat-Nya. Atau dalam bait yang lain Hamzah Fansuri juga menegaskan “hapuskan akal dan rasamu //lenyapkan badan dan nyawamu // pejamkan hendak kedua matamu // sana kau lihat permai rupam.” Penggal bait pertama dari puisi di atas dapat dimaknai bahwa upaya mendekatkan diri kepada Tuhan dapat dicapai dengan cara melawan hawa nafsu. Nafsu yang bermaqam di ubun-ubun atau mengisyaratkan berupa pikiran liar atau buruk ataupun nafsu di pucuk hidung atau segala yang berkaitan dengan aroma dari tangkapan penciuman termasuk di dalamnya makanan dan minuman. Pada penggal bait yang kedua yang dikutip, hapuskan akal dan rasamu, merujuk pada pikiran buruk dan nafsu yang berkaitan dengan rasa alami manusia. tersebab, hal-hal itu adalah penghalang untuk lebih dekat kepada Allah. Sedangkan untuk mengetahui ”rahasia-rahasia” Allah, tutuplah mata yang kasat ini, maka akan terang dilihat siapa diri sesungguhnya di dahapan Sang Pencipta yaitu manusia yang lebih baik, manusia yang jauh lebih elok, di sisi Allah maupun di mata sesama manusia. Tamsilan puisi di atas menurut hemat hamba, mampu mengajak kita untuk mengolah rasa cinta bagi penulis dan juga pembaca. Dengan demikian, tatkala para penyair sufi menulis puisi tentang puasa, puisi-puisi tersebut bertujuan diantaranya agar membangkitkan ilham pembaca melalui penafsiran rohaniahnya. Diharapkan pula pembaca tergugah untuk menyelami esensi dari ibadah puasa. Tulisan ini disudahi dengan keterbatasan pemahaman lainnya yang barangkali bisa saja lebih mendalam. Tetapi sepertimana yang telah disampaikan di awal kata, upaya untuk menelisik persamaan dalam hal proses di antara keduanya adalah upaya diri penulis untuk lebih bisa menjalani ibadah puasa di tahun ini lebih baik sekaligus memperkuat kehendak berpuisi dalam diri agar mampu melahirkan kreatifitas yang lebih bermanfaat. Apalagi misalnya, dalam “pembacaan” hamba, memang sudah dua tahun belakangan, ibadah puasa di bulan Ramadan menjadi agak lebih berat diakibatkan masa pandemi dan juga wacana-wacana keIslaman yang disuguhkan ke publik, cukup membuat kita selaku masyarakat awam merasa tidak nyaman. Demikian juga halnya dengan berpuisi, khususnya bagi diri, adakalanya menulis dirasa lepas dari esensi. Untuk itulah tulisan ini dirangkai. Wallahualambissawab. Demikian fikir dirangkai Banyak hal pula belum terungkai Hanyalah diri hendak memulai Kurangnya jangan, diintai-intai Jefri al Malay Sastrawan Riau. Berkhidmat sebagai tenaga pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Prodi Sastra Melayu Universitas Lancang Kuning. - Bulan suci Ramdhan, merupakan bulan yang telah dinantikan oleh umat muslim. Untuk menyambut bulan suci Ramadhan dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya dengan berpuisi. Puisi dengan tema Ramadhan ini, dapat pula menjadi caption media sosial seperti Whatsaap, Instagram, hingga Facebook. Baca Juga Naskah Kultum Ramadhan Hari Kelima dengan Tema Meraih Seribu Bulan Dilansir oleh dari berbagai sumber, berikut puisi dengan tema bulan Ramadhan. 1. Ramadhan Di Kampung Bila Ramadhan tibaMeneteskan air mataSemua orang bergembiraMenyambut ibadah puasa. Orang sekampung berbahagiaMasjid-masjid bersih semuaDemi menyambut tamu muliaBulan Ramadhan yang penuh berkah. Baca Juga Resep Kalio Ayam untuk Hidangan Buka Puasa Ramadhan yang Sederhana dan Lezat puisi menjelang Ramadan . Gambar unsplash/Mangkuk indah penuh buah kurma melambangkan RamadhanBulan Ramadan sudah dekat, pasti kamu sangat bersemangat menyambutnya. Bulan istimewa yang hanya datang satu tahun sekali. Berikut ini kumpulan puisi menjelang Ramadan dengan arti mendalam sebagai refleksi untuk menyambut bulan Menjelang RamadanInilah 3 puisi menjelang ramadhan yang dikutip dari bukuHal-Hal Langit Kumpulan Puisi, Ramadhan. A, 2020 5 – 13.Bulan malam ini tertutup mendung, aku sudah lama menunggumuTahun lalu banyak hal kusesali, aku mengabaikanmu dengan mudahnyaPadahal kesempatan tidak datang dua kali, senangnya dapat menemui yang keduaMendung berubah menjadi gerimis, kudengar degupan jantungku semakin kencangBegini rasanya bertarung dengan waktu, ketika mataku samar-samar melihat bulan ituSelamat datang bulan Ramadan, aku tidak akan menyia-nyiakan setiap detik bersamamuPuisi dengan judul Bulan yang Kunantikan, memiliki dua arti tentang penyesalan dan kegembiraan. Penyesalan karena di tahun sebelumnya tidak maksimal dalam menjalani ibadah puasa. Namun, kabar gembira yang dinanti masih diberi kesempatan untuk melaksanakan ibadah puasa di tahun yang tertera di bait ketiga, jika kesempatan tidak datang dua kali. Ditutup pada bait terakhir, saat menjalankan ibadah puasa nanti untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, karena di tahun ini juga banyak dari saudara sekitar yang sudah tidak diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan pandemi datang semua terasa berbedaBegitupun bulan Ramadan datang dengan suasana baruKetika suara azan isya terdengar langkah kakiku bergerak menuju masjidBegitupun pandemi menghetikan langkahku yang hanya beribadah di rumahKetika suasana sore menjelang malam banyak orang menghampiri pedagangBegitu terdengar kabar adanya pandemi pedagang pun tidak muncul di pasarWalaupun ada perbedaan sebelum dan sesudah pandemiSemangatku tetap sama untuk menyambut bulan RamadanKarena menjalani puasa di bulan Ramadan bukan tentang perbedaan suasanaNamun apakah aku bisa lebih baik ibadahnya dibanding Ramadan sebelumnyaPuisi yang menceritakan keadaan bulan Ramadan, bagaimana sebelum dan saat pandemi covid-19. Tapi inti dari ibadah puasa di bulan Ramadan sendiri, bukan perkara suasananya yang berubah jadi sepi. Melainkan niat dan semangat dalam menjalankan ibadahnya, sehingga judul puisinya Niat dalam ingat dengan jelas bagaimana riuh suara tetangga membangunkan saurAku juga ingat anak-anak berlarian menuju masjid untuk makan takjil bersamaAku ingat orang-orang yang fokus menyimak ceramah sewaktu tarawihAku ingat sebelum tidur selalu melantunkan bacaan Al-QuranIngatan tentang bulan Ramadan membuatku tidak sabar bertemu dengannyaPuisi ini mengingatkan setiap orang bagaimana budaya Ramadan di Indonesia berlangsung. Kebersamaan lebih kuat dibandingkan bulan-bulan biasanya, semangat beribadah lebih kencang dari bulan-bulan sebelumnya. Begitulah istimewanya Ramadan, bulan yang mampu membawa ketenangan dan kegembiraan untuk orang-orang yang sedang 3 kumpulan puisi menjelang Ramadan di atas dapat menambah ketenangan dan semangat ketika menjalani puasa nanti ya!